Lompat ke konten utama

SDIT Mutiara Sunnah Pangandaran

Resume Kajian Parenting: 8 Prinsip Memandang Anak Dalam Islam – 9 Juli 2026

Alhamdulillah, pada 9 Juli 2026, SD IT Mutiara Sunnah Pangandaran menggelar kajian parenting yang hangat dan penuh makna bersama Ustadz Abu Qotadah Al-Atsary. Acara ini menjadi langkah awal sebelum tahun pelajaran 2026/2027 dimulai, sekaligus membangun sinergi antara orang tua dan sekolah.

Kajian ini menekankan satu pesan penting: cara kita memandang anak akan menentukan cara kita mendidiknya. Jika pandangan kita keliru, pendidikan pun akan salah arah. Berikut resume yang disusun agar mudah dibaca dan langsung bisa dipraktikkan di rumah maupun di sekolah.

Pendidikan Adalah Kewajiban Bersama

Pendidikan tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah. Ki Hajar Dewantara merumuskan trisentra pendidikan: rumah, sekolah, dan masyarakat. Sekolah hanyalah partner orang tua, bukan pengganti.

Karena itu, hindari kalimat “Ustadz, titip anak saya.” Kalimat yang lebih tepat adalah: “Ustadz, tolong bantu saya mendidik anak saya.”
Anak adalah amanah, bukan barang titipan. Yang diperintah Allah untuk mendidik keluarga adalah orang tua sendiri (QS. At-Tahrim: 6).

Tiga Syarat Utama Agar Anak Saleh

Sebelum membahas delapan prinsip, Ustadz Abu Qotadah Al-Atsary mengingatkan tiga fondasi:

  1. Memilih pasangan yang saleh/salehah.
  2. Menjadi pribadi yang saleh terlebih dahulu (kun salihan li abnaik).
  3. Banyak berdoa untuk anak di lima momen penting: sebelum menikah, setelah akad, saat akan berhubungan intim, saat meminta keturunan, dan di berbagai kesempatan sehari-hari (termasuk dalam salat dan saat mengantar anak sekolah).

8 Prinsip Memandang Anak Dalam Islam

1. Anak sebagai Amanah Allah
Anak bukan milik kita, melainkan titipan dan nikmat dari Allah. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan iman, ibadah, dan akhlaknya. Setiap anak memiliki kemampuan berbeda; jangan membandingkan atau memaksa di luar takdirnya.

2. Anak sebagai Pribadi yang Utuh
Anak memiliki dimensi spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan fisik. Pendidikan yang hanya fokus pada hafalan atau nilai akademik akan menghasilkan manusia yang timpang. Di SD IT Mutiara Sunnah, pembelajaran dirancang holistik agar semua aspek berkembang seimbang.

3. Anak Dianugerahi Fitrah
Anak bukan kertas kosong. Setiap anak membawa fitrah iman dan tauhid, cinta kepada kebenaran, semangat belajar, serta bakat yang berbeda-beda. Tugas orang tua dan guru adalah menjaga serta mengembangkan fitrah tersebut, bukan memaksakan sesuatu yang tidak ada pada dirinya.

4. Anak dalam Proses Perkembangan
Anak bukan miniatur orang dewasa. Ia butuh ruang untuk mencoba, salah, dan belajar. Terutama di usia TK dan SD, tekanan berlebih justru bisa membuat anak drop di jenjang berikutnya. Berilah kesempatan bagi anak untuk berkembang secara bertahap dan alami.

5. Anak Butuh Kasih Sayang dan Kehadiran
Perbanyak kasih sayang daripada ancaman. Tanamkan dulu bahwa Allah Maha Penyayang sebelum berbicara tentang azab. Kasih sayang orang tua membuat anak merasa nyaman secara emosional, intelektual, dan sosial. Kasih sayang yang tulus—termasuk mengajak anak melakukan hal yang ia senangi—jauh lebih berkesan.

6. Anak Butuh Bimbingan dan Pendampingan
Anak tidak hanya butuh nasihat atau perintah, tetapi kehadiran yang nyata. Saat anak kesulitan belajar, duduklah di sampingnya. Saat anak berbuat salah, dampingi ia memperbaiki diri, bukan hanya memarahi. Pendampingan membuat anak merasakan bahwa orang tuanya benar-benar hadir.

7. Anak Butuh Role Model
Anak di usia TK dan SD adalah peniru ulung. Ia tumbuh 1% dari nasihat dan 99% dari apa yang ia lihat dan dengar. Jika ingin anak rajin membaca, orang tua harus menunjukkan kebiasaan membaca. Jika ingin anak rajin salat berjamaah, orang tua harus menjadi teladan terlebih dahulu.

8. Anak Butuh Kehadiran Orang Tua (Fisik dan Emosional)
Anak sangat membutuhkan kehadiran ayah dan ibu. Kehadiran terbaik adalah yang bersifat fisik sekaligus emosional. Di era digital, kualitas waktu bersama jauh lebih penting daripada kuantitas. Bahkan dalam Al-Qur’an, sebagian besar dialog orang tua-anak melibatkan ayah—menunjukkan betapa pentingnya peran ayah dalam kehidupan anak.

Catatan dari Sesi Tanya Jawab

  • Mengobati luka batin anak: Butuh waktu, kesabaran, dan kesediaan orang tua untuk meminta maaf serta menciptakan pengalaman baru yang positif.
  • Anak mogok belajar atau sekolah: Cari penyebabnya, berikan kenyamanan terlebih dahulu, dan jangan panik. Anak memiliki ritme naik-turun; dampingi dengan sabar dan berikan solusi yang menenangkan.

Penutup

Delapan prinsip di atas menjadi landasan bagaimana kita seharusnya memandang dan menyikapi anak. Pendidikan yang berkualitas lahir dari cara pandang yang benar, kolaborasi orang tua-sekolah, serta keteladanan yang konsisten.

Semoga ilmu dari kajian parenting bersama Ustadz Abu Qotadah Al-Atsary ini membawa keberkahan bagi keluarga dan menjadi bekal dalam mendidik generasi yang saleh dan salehah.

#ParentingIslam #8PrinsipMemandangAnak #PendidikanAnakIslam #KajianParenting #SDITMutiaraSunnah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *